Aku kalap, hari-hari ini aku tidak dapat berpikir jernih.
Inikah yang namanya dilanda cinta yang menggebu-gebu.
Kali ini aku paham bagaimana perasaan seorang pujangga, bagaimana raja-raja terkisah di epos Mahabharata tertawan oleh kecantikan dewi-dewi, bidadari, dan wanita cantik jelita.
Sejak pertama, pandanganku tertancap pada parasmu.
Aneh, seharusnya tidak begitu.. Aku tidak tahu apa yang membuatku teralihkan.
Hari-hari berjalan, berusaha kuyakinkan 'kamu tidak akan suka,' 'Kamu hanya penasaran,' 'Ini tidak akan bertahan lama,' 'itu cuma perasaan sementara'..
Aku berusaha menanggapinya biasa saja.
Tetapi ketika waktu memanggil jejak langkahku, perlahan aku sadar.
Sampai sudah selama ini, perasaan itu belum juga hilang. Tidak lagi hilang, justru menguat.
Aku terjerat, oleh semua tingkah lakumu, semua yang kau lakukan apapun itu, terlihat indah, memang indah.
Bukannya ingin melepas jerat, justru aku tenggelam dan terlena. Aku tak ingin dilepas. Aku ingin terkurung dalam jerat keindahan rasa seperti ini.
Aku tidak lagi mempedulikan siapa engkau, seberapa berbedanya apabila aku dan kamu harus dibandingkan.
Tidak lagi, tidak masalah, aku ingin kamu. Sepenuhnya kamu.
Aku tidak tahu caranya. Caranya mendekatimu.
Caranya memberi pesan padamu. Cara berbicara padamu. Cara memandangmu.
Cara membuatmu tertawa, kalau bisa membuatmu senang. Aku sungguh-sungguh terbatas.
Aku pengecut. Aku hanya berani melihatmu dari jauh, memandangimu. Aku tidak mengerti bagaimana kalau harus menjadi akrab denganmu. Aku kalut, aku kikuk, aku gamang, aku bimbang, aku ragu.. Aku ini siapa, beraninya menuntut perhatianmu..
Aku berusaha tahu, ya mencari tahu. Aku ingin bisa dekat denganmu, seperti orang lain bisa dekat dan akrab denganmu. Tapi apakah itu aku hari-hari ini? Aku hanya berani mencari tahu dari piranti dunia maya ini.
Aku tidak benar-benar mengerti mengapa cara ini tidak indah tetapi selama ini aku lakukan.
Aku tidak mengerti mengapa aku tidak berani padamu, aku beku, aku diam, aku berpura-pura.
Lihatlah dirimu, aku mengerti kamu tidak mungkin menganggapku seseorang yang serius.
Aku juga ragu apakah aku bisa menjadi seseorang yang bisa kau andalkan sekarang dan nanti.
Tapi aku ingin.
Aku hanya bisa memandangimu dari dua dunia, dunia angan yang terasa berjarak dan dunia maya ini.
Aku mencari-cari semua yang bisa kucari. Aku tertarik dan gila penasarannya akan dirimu, parasmu, kepribadianmu, tingkah lucumu, prestasimu, yang selama ini mungkin hanya secuil aku tahu.
Kamu berhasil membuatku tergantung, sama berhasilnya merubah cara pandangku.
Cantik itu yang dari hati. Jujur kamu bukan yang tercantik di luar sana, banyak perbandingan yang mungkin orang lain menilai berbeda. Tapi 'cantik'mu adalah cantik yang aku tunggu-tunggu. Cantik yang dari hatimu..
Cantik yang tidak sekedar cantik.. Cantik yang tidak mengumbar.. Cantik yang istimewa karena pribadimu.
Mengenal dirimu membuatku sadar setiap orang memiliki kecantikannya sendiri, aku menjadi sadar setiap orang akan terlihat istimewa pada orang yang tepat. Dan aku terpaut pada cantik milikmu, aku berharap aku bisa menjadi orang yang tepat.
Aku melihat, mencari, dan menjadi semakin tertarik. Aku seorang penguntitkah? Kalau memang menguntit (stalking) itu seindah ini.. baiklah aku mulai dari sini. Baiklah rasa cintaku terus bertumbuh bukan berkurang. Biarlah aku memulainya dari sejak aku memilihmu, untuk menjadi seseorang yang benar-benar aku nanti dan inginkan. Memilihmu menjadi kebahagiaanku. Memilih resiko yang ada..
Semakin kupandangi setiap ekspresi wajahmu, memori yang tersimpan baik di gambar-gambar itu.. Walau kuberharap aku ada untuk menangkap senyummu itu. Aku semakin tidak berdaya, menahan perasaan senang dan bahagia ini. Setiap kenangan yang mungkin hanya engkau yang benar-benar tahu, aku hanya ingin memahaminya bagiku sendiri.
Jangan salahkan dirimu, jangan ini salahku, aku yang memilih seperti ini.
Pilihan yang tidak semua orang akan menganggapnya baik, aku tidak peduli.
Kumulai dengan stalking, esok pun juga.. karena aku ingin tahu engkau selalu baik dan bahagia.
Aku salah, saat itu. Menunjukkan caraku yang salah. Aku tidak mengerti akan sikapmu. Aku harap kamu tidak salah paham..
Aku yang pengecut ini.. ingin berubah. Tunjukkanlah sesuatu yang mampu meyakinkanku bahwa memilihmu bukanlah sebuah kesalahan hati, bukan karena terbiasa.. tapi karena itu murni.
Terimakasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku, aku tidak ingin mengakhiri kisahnya sekarang. Aku memilih untuk tetap, hari ini aku memilih untuk meneguhkannya padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar